Secangkir Kopi Pahit Untuk Indonesia

cangkrukAdakalanya kita sempatkan diri untuk menyisihkan sedikit waktu guna sekedar merefresh otak yang bisa jadi mulai membatu oleh sebab banyak hal. Bisa jadi karena tekanan ekonomi, pekerjaan yang bermasalah, urusan keluarga yang makin pelik, hubungan lawan jenis yang meretak, atau bahkan status jomblo yang masih saja menghantui kemanapun kaki melangkah 😀 . Belum lagi bila melihat dan membaca situasi negeri ini yang makin carut marut kayak entut berut. Aduh..!

Mungkin dengan secangkir kopi dapat sedikit menghilangkan suntuk dan penat di kepala. Jangan lupa ambil gitar atau galon kosong untuk sekedar meramu bunyi-bunyi dengan nada seadanya. Kalao terpaksa cukup meja kayu atau bahkan panci dapur dipukul-pukul pake tangan biar mengeluarkan nada meski tak semerdu bedug namuns setidaknya ada pengiring saat kopi mulai diseruput.

Tidak banyak yang menyadari bahwa kita sekarang hidup di sebuah negeri yang telah ditancapi bendera-bendera dari bangsa asing. Bendera-bendera itu menancap dengan kuat sebagai identitas kekuasaan atas berbagai bidang. Diantaranya telah menancap dengan kokoh pada bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan seterusnya bahkan pada bidang agama pun sudah bermunculan bendera-bendera baru atau sekte-sekte “baru” yang makin “aneh” pula.

Entah mengapa semua dibuat klenger, tanpa daya, hilang semangat dan hasrat untuk terus berjuang berdiri diatas kaki sendiri sebagai bangsa dan negara yang bernama Indonesia. Baik atau buruk, salah atau benar, inilah Indonesia negeri tempat lahir beta, bumi tumpah darah kita. Kecuali yang ingin mati di negeri tetangga 😀

Seperti yang kita lihat bersama, mau sekeras apapun upaya membangun negeri ini seakan terus membentur karang tebal yang gak karuan kuatnya, lalu jatuh terjengkang dirundung nestapa berbuah putus asa. Pemerintah pun isinya sekarang sudah seperti gerombolan orang-orang yang menjalin kerjasama hanya untuk memonopoli sumber daya alam negeri ini agar leluasa mengeruk harta kekayaan Nusantara demi kesejahteraan gerombolan mereka. Lalu disusul gerombolan yang mengatasnamakan rakyat mereka gak kalah sadis dalam menghisap sumber daya alam Nusantara. Keduanya seperti tidak pernah punya rasa puas dalam memperkosa Ibu Pertiwi. Wal hasil rakyat negeri ini harus jungkir balik bahkan sampai sekarat untuk sekedar mencari sesuap nasi untuk merekatkan selembar nyawa pada raga.

Ach.. sudahlah. Kita genjreng lagi gitarnya. Atau panci-panci yang kita ambil dari dapur tetangga 😀 . Asal jangan keras-keras, nanti ada yang mengguyur air comberan dikiranya terjadi kebakaran. Atau bahkan batu bata berhamburan ke arah kita dikiranya ada kucing mau kawin, berisik! 😀

Rasanya memang benar, kita ini sedang dijajah oleh bangsa kita sendiri. Yang mana kita hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi namun masih banyak dan memang sangat banyak orang-orang di negeri ini hidup dalam kesengsaraan lahir maupun batin. Untuk sekedar bisa makan, tidak sedikit yang harus mengemis di perempatan jalan. Untuk sekedar bisa minum, tidak sedikit yang harus nunggu air hujan. Untuk sekedar tidur, tidak sedikit yang berlindung dibawah jembatan atau pojok-pojok trotoar. Sementara mereka yang digedung-gedung pemerintah sedang asyik makan sambil membicarakan kemiskinan rakyat, dari sisi mana kiranya yang dapat diproposalkan.

Ach… biarlah. Kita seruput lagi kopi pahit kita. Sampai kapan pun gerombolan-gerombolan mereka tak akan pernah puas menumpuk-numpuk harta benda untuk kemakmuran keluarga dan partainya semata. Syukurlah, kita masih ada secangkir kopi untuk hari ini, entah esok hari.

Ketabahan rakyat yang sedemikian rupa, dibanting kanan dan kiri, ditipu dari atas sampai bawah, ditikam dari depan maupun belakang, masih tetap tegar meski nyawa sudah diujung rambut. Hanya dengan kesabaran dan ketabahan rakyatlah negeri ini tetap berdiri meski dijajah oleh bangsanya sendiri. Dan para penjajah itu tidak akan pernah sadar bahwa mereka telah menjajah saudaranya sendiri sampai suatu saat nanti bencana melibas negeri ini.

Mari kita seruput lagi kopi pahit yang ada, nikmati tiap hembusan nafas yang masih tersisa. Dendangkan lagu-lagu wajib nasional. Mungkin dengan begitu kita menemukan denyut nadi nasionalisme yang telah lama terkubur oleh gelombang kehidupan yang dihembuskan para bajingan dan setan gentayangan.

Cobalah tengadahkan kepala, lihat langit biru yang syahdu di atas bumi Indonesia. Sekiranya dapat menyadarkan kembali ingatan kita pada ceceran darah nenek moyang yang mengharu biru demi kemerdekaan Indonesia.

Cobalah tundukkan kepala, lihatlah tanah yang kita pijak. Yah siapa tahu tumbuh semangat patriotisme yang lama tenggelam dalam derap kemajuan yang menjerumuskan setiap insan.

Cobalah tengok ke belakang, ada pekik-pekik kemerdekaan, ada jerit-jerit penderitaan, ada sorak dan gerak yang menggelora untuk bahu membahu mengibarkan bendera kemerdekaan. Lebih ke belakang lagi, ada masa-masa kejayaan para leluhur dalam menciptakan peradaban-peradaban jaman. Siapa tahu semangat membangun negeri ini membahana dalam jiwa dan raga untuk kemudian merapatkan barisan dalam membangun negeri ini tanpa embel-embel dan campur tangan bangsa asing.

Cobalah tatap ke depan, matahari masih setia menyinari Indonesia. Siapa tahu kita tergerak untuk membakar karang kebodohan yang selama ini menggelapkan ke-indonesia-an seluruh penduduk negeri ini. Atau setidaknya meluruhkan keegoisan masing-masing pribadi sebagai orang yang paling benar, paling pintar, paling beriman, dan paling cerdas. Sehingga terbuka mata hati dan jiwa untuk berfikir dan bertindak sesuatu demi negeri tercinta.

Memang sepertiga perahu bangsa ini sudah terperosok dalam jurang, sangat mungkin sebentar lagi Indonesia tinggal kenangan. Namun masih ada kesempatan sebelum semua sirna ditelan raksasa-raksasa globalisme hasil rekayasa setan belang ra katokan. 😀

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*