#Blitar. Tahun 2020 menjadi saksi terhadap umur sebuah negara yang bernama Indonesia. Tepatnya 17 Agustus 2020, Indonesia mencapai usia 75 tahun. Angka krusial yang mempertemukan antara dua watak yang berbeda. Angka 7 (tujuh) memuat nuansa percepatan, kekerasan, kekasaran serta keganasan. Angka 5 (lima) memuat energi jahat yang tidak menguntungkan pada setiap orang. Selain mendorong siapapun untuk berbuat jahat juga membawa aura penyakit yang membuat siapapun mudah jatuh sakit. 75 benar-benar angka yang patut untuk diwaspadai. Waspada terhadap apapun yang mengandung unsur keburukan.

Umur 75 tahun bagi manusia tentu dapat diasumsikan sebagai masa yang cukup renta untuk beraktifitas. Ketika harus menghadapi jaman yang menuntut serba cepat, akurat, dan tepat, maka dia akan mengalami banyak kendala. Tentu saja ini hanyalah asumsi, sebuah gambaran belaka. Setidaknya dengan ilustrasi yang demikian itu dapat dijadikan acuan bahwa Indonesia benar-benar membutuhkan perhatian, membutuhkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat dibawah bendera Merah Putih.

Indonesia bukanlah sebuah negara yang berdiri sendiri di muka bumi. Dia hadir setelah 17 Agustus 1945 silam yang mana ribuan nyawa melayang untuk menghantarkan kelahirannya.

Demikian juga disaat negara-negara di seluruh dunia menghadapi pandemi corona yang kemudian dikenal sebagai covid-19 maka Indonesia tidak bisa lepas dari ganasnya wabah tersebut.

Sebelum tahun 2020 sudah banyak para Master, para Pujangga yang menggambarkan akan datangnya masa suram, masa sulit, masa yang sulit diprediksi karena memang putaran alam yang mengharuskan demikian. Tinggal apa dan bagaimana manusianya menghadapi putaran alam ini. Karena itulah ada beberapa yang menyebut tahun 2020 sebagai Funeral Gate, gerbang kematian, gerbang mayat, gerbang penderitaan serta gerbang menuju masa baru. Baru yang bagaimana itu lah yang masih menjadi tanda tanya, karena saat ini semua bangsa masih berada di bawah gerbangnya.

Mulatsariro. Inilah saatnya untuk mulatsariro, melihat ke dalam diri masing-masing, evaluasi diri sendiri. Sebagai bangsa atau negara, sekiranya menyatukan langkah, menyamakan persepsi, agar segera menemukan jalan atau cara memasuki era baru setelah melewati gerbang 2020. Sebagai masyarakat, kebersamaan serta rasa senasib seperjuangan harus dihadirkan kembali untuk menghadapi situasi yang kemungkinan makin sulit dihadapi. Dengan mempersempit ruang berfikir yang berdasar pada perbedaan. Semua harus belajar meluruhkan ego masing-masing sehingga tidak ada lagi yang tersisa, selain sama-sama kita adalah manusia yang sedang berjalan melintasi gerbang kematian untuk melanjutkan hidup sampai titik darah penghabisan. Sebagai individu berusaha membaca dan mengamati diri sendiri untuk kemudian menatap ke depan dimana sebuah kepastian yang tidak lagi pasti telah menanti, karena hanya satu yang pasti yakni kematian.

Semua mahluk hidup pasti akan mati. Dengan begitu segala bentuk gonjang-ganjinge jaman bisa jadi hanyalah ilusi belaka. Maka merdekakanlah diri sendiri dari segala tipu daya ilusi yang hadir disetiap ruang dan waktu dunia. MERDEKA!

Dirgahayu Indonesia ’75

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*