Posted inArtikel

NEW BUNG!

Dari buah kecubung mungkin bisa kita analogikan secara ngawurisme bagaimana hidup di jaman yang serba
membingungkan ini agar kita tetap “nyambung”. Nyambung dengan kenyataan maupun nyambung
dengan maksud pihak-pihak yang doyan pencitraan. Nyambung dengan diri kita sendiri maupun nyambung
dengan Yang Maha Agung.Juga sambung menyambung menjadi satu apapun itu.

Hidup yang pada hakekatnya sangatlah sederhana menjadi begitu rumit dan ruwet karena
mayoritas tidak pernah mau kenal dengan dirinya sendiri. Kita hanyalah seonggok daging yang
terus berkembang namun tidak semua mampu berbuah seperti pohon kecubung. Sebagai seonggok
daging yang kemudian semua sepakat dinamakan manusia, lalu dengan lantang memproklamirkan
diri sendiri sebagai mahluk yang paling sempurna di muka bumi. Benarkah kita yang paling
sempurna ? Tentu saja jawabnya iya kalau yang menjawab manusia.

Bagi para hewan, mungkin keberadaan manusia adalah sebagai ancaman yang teramat sangat mengerikan.Karena hampir semua hewan apabila berada ditangan manusia, kalau tidak dipenjara untuk kesenangan manusia ya otomatis dibunuh lalu sebagian dimakan sebagian lagi dibuang begitu saja yang penting mati.

Bagi para tumbuhan, dimana ada manusia disitulah sumber kerusakan ekosistem berawal. Walau ada yang getol memelihara dan merawat tumbuhan, endingnya adalah eksploitasi sebesar-besarnya untuk hanya kepentingan manusia.

Bagi para mahluk gaib, misalnya, kuntilanak, tuyul, jin, gandaruwa dkk, manusia adalah mahluk yang paling meresahkan. Karena manusia kebanyakan meminta pertolongan pada mahluk gaib, kalau gak dibantu maka manusia akan berusaha memusnahkan mahluk gaib. Segala hal buruk yang terjadi pada manusia mayoritas sebab musababnya dilimpahkan pada mahluk gaib. Sehingga mulai rumput, semut, sampai lelembut, dipaksa dan terpaksa tunduk pada seluruh kehendak manusia.

Manusia benar-benar mahluk yang sempurna di muka bumi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *