Mengutip dari berbagai sumber media ternama di tanah air, yang mana moment pidato kenegaraan oleh Presiden Republik Indonesia disiarkan secara langsung pada Hari Jum’at tanggal 14 Agustus 2020. Pidato Kenegaraan merupakan Sidang Tahunan MPR, Presiden dipersilahkan menyampaikan hasil capaian maupun argumentasi terhadap isu-isu penting atas perkembangan segala aspek kehidupan di Indonesia.

Ada banyak point yang semestinya menjadi perhatian seluruh rakyat Indonesia. Namun pidato di tengah-tengah masa pendemi seperti ini barangkali banyak yang miss atau luput dari perhatian masyarakat.

Demokrasi memang menjamin kebebasan, namun kebebasan yang menghargai hak orang lain. Jangan ada yang merasa paling benar sendiri, dan yang lain dipersalahkan. Jangan ada yang merasa paling agamis sendiri. Jangan ada yang merasa paling Pancasilais sendiri. Semua yang merasa paling benar dan memaksakan kehendak, itu hal yang biasanya tidak benar.” kata Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan di Gedung Parlemen, Jakarta.

Dari penggalan pidato tersebut, lalu kita lihat fakta di lapangan, maka akan nampak memang tidak sedikit yang menggunakan kebebasan untuk kepentingan-kepentingan pribadi maupun golongan, dan dampaknya adalah adanya persaingan yang mengarah pada permusuhan antar pemilik kepentingan karena tanpa dilandasi pemahaman menghargai hak orang lain. Ini juga merupakan bibit-bibit perpecahan yang jelas akan merongrong persatuan dan kesatuan bangsa menuju kehancuran NKRI yang berbhineka tunggal eka. Entah itu karena minimnya pemahaman terhadap makna demokrasi atau memang ada unsur kesengajaan. Waktu yang akan menjelaskannya. LOL

Kemudian Presiden juga mengatakan,”Saya ingin semua platform teknologi harus mendukung transformasi kemajuan bangsa. Peran media-digital yang saat ini sangat besar harus diarahkan untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.Semestinya, perilaku media tidak dikendalikan untuk mendulang click dan menumpuk jumlah like, tapi seharusnya didorong untuk menumpuk kontribusi bagi kemanusiaan dan kepentingan bangsa.

Itulah salah satu problematika yang dihadapi anak bangsa saat ini terhadap pesatnya perkembangan piranti teknologi. Kemudahan serta kecanggihan teknologi telah meninabobokan sebagian besar anak bangsa, sehingga keberadaan teknologi hanyalah sebagai pelengkap kesenangan belaka.

Terakhir, Presiden Joko Widodo menutup pidato dengan harapan sebagai berikut:
“Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air, Masih banyak langkah-langkah besar yang harus kita lakukan. Masih tersedia waktu 25 tahun lagi bagi kita untuk menyiapkan seabad Indonesia merdeka, untuk membangun Indonesia yang kita cita-citakan. Target kita saat ini bukan hanya lepas dari pandemi, bukan hanya keluar dari krisis. Langkah kita adalah melakukan lompatan besar memanfaatkan momentum krisis yang saat ini sedang terjadi. Krisis memberikan momentum bagi kita untuk mengejar ketertinggalan, untuk melakukan lompatan transformasi besar, dengan melaksanakan strategi besar. Mari kita pecahkan masalah fundamental yang kita hadapi. Kita lakukan lompatan besar untuk kemajuan yang signifikan. Kita harus bajak momentum krisis ini. Kita harus serentak dan serempak memanfaatkan momentum ini. Menjadikan Indonesia setara dengan negara-negara maju. Menjadikan Indonesia maju yang kita cita- citakan.

Dirgahayu Republik Indonesia! Dirgahayu Negeri Pancasila!
Merdeka!

Terima kasih”

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*