Gerobak Kematian Nurani

Gonjang-ganjinge Jaran merubah atmosfir perkembangan dunia di segala aspek kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Demikian juga riak dan riuhnya masyarakat dalam menjalani hidup dan kehidupan ini tidak luput dari gilasan roda jaman yang makin pelik untuk dihadapi.  Sehingga semua dijauhkan dari hakekat hidup itu sendiri karena sudah tiada lagi sela barang sedikitpun untuk sekedar memahami dan menyadari.

gledekan

Lalu apa dan siapa yang menjadi penggerak utama perubahan demi perubahan jaman yang makin menggila ini? Sebuah pertanyaan yang memiliki ribuan jawaban atas dasar sudut pandang yang berbeda. Percepatan di segala lini kehidupan ini telah melahirkan sebuah ajang kompetisi setiap anak manusia untuk sampai pada garis finish dengan baik dan benar. Tidak jarang seseorang harus jungkir balik dan babak belur diterjang pola hidup yang dicanangkan sebagai dasar hidup masing-amsing individu maupun kelompok masyarakat. Hanya karena menuruti anggapan atau pendapat orang lain seseorang bisa melakukan apapun untuk sebuah pembuktian diri. Hal yang demikian itu seringkali menjauhkan seseorang dari jatidiri dirinya sendiri. Tahu-tahu sudah terjerumus masuk ke dalam gaya hidup popular yang indah namun menghancurkan. Akhirnya setiap anak manusia melakukan seluruh rangkaian aktifitasnya hanya untuk memenuhi anggapan atau persepsi umum terhadap jalan hidup yang telah disepakati masyarakat luas tanpa tahu adanya jurang menganga diujung gaya hidup tersebut.

Upaya penyelarasan diri dengan lingkungan termasuk alam sekitar dengan harapan mampu menciptakan melodi kehidupan yang harmonis makin sulit diwujudkan di jaman edan ini. Kesederhanaan hidup sehari-hari dinilai menjadi sebuah kegagalan dalam putaran kompetsisi hidup di tengah masyarakat yang makin konsumtif. Tanpa sadar dalam setiap jenjang kompetisi hidup dalam masyarakat telah menciptakan budaya-budaya persaingan antar sesama, persaingan antar saudara, persekutuan, permusuhan, yang melahirkan pribadi-pribadi anti sosial, mengikis rasa perasuadaraan, membekukan rasa peduli antar sesama, menumbuhkan bibit-bibit egosentris dari generasi ke generasi.

Bumi ini sedang membutuhkan lantunan nyanyian hati. Karena suara-suara hati telah lama terbenam dalam riuhnya kemunafikan yang dibungkus dengan baju-baju agamis yang diiringi upaya-upaya modernisasi dalam setiap aksi dan gerakannya. Seolah meluruskan namun sesungguhnya menjerumuskan. Seolah menuju kebahagiaan namun sesungguhnya menuju kesengsaraan. Seolah menuju kemajuan namun sesungguhnya menuju kemunduran. Seolah menuju surga namun sesungguhnya menuju neraka.

Dengarkan suara hati sebelum hati menggelap karena kehilangan cahaya sejati oleh gempuran-gempuran pikiran hasil formulasi yang disebarkan oleh mereka yang ingin menggenggam dunia dalam satu wadah New World Order.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*