|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Tuesday, 01 June 2010 |
|
Grebeg Pancasila adalah suatu upacara untuk memperingati hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni. Dan Blitar boleh jadi satu-satunya Kota yang masih peduli dan terus memberikan apreasiasi dengan beberapa rangkaian upacara adat guna menggemakan kesaktian PANCASILA sebagai dasar atau ideologi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Rangkaian acara Grebeg Pancasila dimulai pada malam hari sebelum jatuh tanggal 1 Juni. Pada malam itu, diadakan arak-arakan yang diikuti segenap warga Kota Blitar dengan berbagai aksesoris yang mencerminkan Pancasila berikut lambang Garuda. Dengan start di Dalem Gebang yakni rumah dimana Soekarno (presiden I Indonesia) kecil pernah menghabiskan masa kanak-kanaknya, menuju balai kota Blitar. Di balai Kota blitar selanjutkan akan digelar Malam Renungan Lahirnya Pancasila.
Keesokan harinya yaitu tanggal 1 Juni, akan digelar kirab Gunungan Limo dari Aloon-aloon Kota Blitar menuju Makam Bung Karno. Gunungan Limo disimbolkan dengan tumpeng raksasa dan digotong oleh beberapa orang berjalan kaki dari aloon-aloon sampai Makam Bung Karno.
Limo berarti LIMA sesuai sila Pancasila yang berjumlah lima. Dengan 5 sila itulah Indonesia dengan berbagai macam suku, agama, serta budaya dapat dipersatukan kedalam satu kesatuan negara Republik Indonesia.
Acara terkahir adalah pemotongan tumpeng di area Makam Bung Karno oleh Wali Kota beserta Bupati Blitar dan pejabat-pejabat pemerintah lainnya. Tentu saja masyarakat setempat ramai berdatangan selain menyaksikan seluruh prosesi Grebeg Pancasila, juga bersama-sama menikmati tumpeng setelah kenduri yang berisi panjatan do'a-do'a dilakukan para sesepuh Blitar.
Event Grebeg Pancasila bila dilihat dari kemampuan Pemerintah dan warga Blitar khususnya dalam mewujudkan kedalam bentuk upacara adat, boleh dibilang sangatlah sederhana. Untuk bisa dijadikan sebagai obyek wisata dalam skala yang lebih besar lagi tentu kiranya masih diperlukan Event Organiser yang memadai, mengingat Pancasila yang demikian Agung bagi bangsa Indonesia ini, tidakkah ada sebersit keinginan untuk membuat event Grebeg Pancasila lebih spektakuler lagi? Atau jangan-jangan event seperti itu hanyalah buang-buang energi dan biaya. Apakah peringatan-peringatan seperti itu sudah menjadi hal yang demikian kuno bagi anak-anak muda jaman sekarang?
Peringatan hari Lahirnya Pancasila kiranya tetaplah perlu untuk terus didengungkan seantero jagad Nusantara, agar tiap-tiap individu tetap terus terjaga dan sadar akan pentingnya Pancasila bagi kehidupan bermasyarakat, beragama, berbudaya serta bernegara yakni Indonesia Raya tercinta. Kecuali memang peringatan hal semacam itu sudah dianggap tidak up to date lagi bagi bangsa ini.
|
|