|
Dirgahayu Kota Blitar ke 104 |
|
|
|
|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Thursday, 01 April 2010 |
 Hari jadi Kota Blitar yang diperingati setiap tangal 1 April, Pak Djarot Syaiful Hidayat selaku wali Kota Blitar menggelar Ringgit (wayang kulit) dengan lakon (judul) Semar Mbangun Khayangan. Dalang wayang di datangkan dari Jawa tengah yakni Ki Dalang Anom Suroto, dalang nomer wahid saat ini. Kemudian ada Cak Dikin seniman campursari asli Banyuwangi yang telah banyak menciptakan lagu-lagu campursari modern seperti Mr. Mendem, Tragedi tali Kutang dan lainnya.
Ribuan warga Kota Blitar dan sekitarnya tumplek blegh berdesakan di halaman Kantor Wali Kota selatan aloon-aloon Blitar. Meski Wayang termasuk pertunjukan yang kurang diminati anak-anak muda jaman sekarang, tapi bila melihat antusias penonton yang melihat pertunjukan dimalam itu cukup melegakan. Ternyata di Blitar masih banyak pecinta seni Wayang Kulit yang notabene bahasa wayang yang hampir keseluruhannya menggunakan bahasa jawa kromo, sesekali menggunakan bahasa kawi, belum lagi istilah-istilah pewayangan yang mulai asing ditelinga sendiri, tentunya menjadi hal wajar bila kesenian yang satu ini lambat laun akan hilang karena minimnya minat generasi muda sekarang untuk mempelajarinya.  Jangankan bahasa jawa halus, untuk bahasa jawa ngoko (biasa) saja anak-anak kecil sekarang sudah banyak yang tidak tahu. Suatu saat, kesenian wayang kulit, tinggal dalam buku-buku sejarah bila tiada lagi yang melestarikannya.
Tanggal 1 April 2010 merupakan ulang tahun Kota litar yang ke 104. Banyak hal yang telah dicapai oleh kota Blitar yang kecil ini. Boleh jadi HUT kali ini merupakan kali terakhir Pak Djarot memegang pucuk pimpinan di Kota Blitar, karena memang beliau sudah 2 dekade menjadi orang nomor 1 di Kota Blitar.
Ki Anom Suroto dengan suara emasnya, membawa serta sinden-sinden dengan suara khas mereka. Bahkan hadir pula Cak Dikin beserta istrinya Jeng Wiwitd Widayati menghibur para hadirin dengan keahliannya menembangkan campursari, tentu saja penuh dengan banyolan-banyolan (lelucon) yang benar-benar membuat penonton gar-ger tertawa.
Meski sempat hujan, ternyata warga blitar yang hadir di pertunjukan wayang kulit itu, enggan untuk bergeming sedikit pun. Mereka tetap setia melihat dan mendengar jalannya SEMAR MBANGUN KHAYANGAN.
Dirgahayu Kota Blitar !
|
|