|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Sunday, 07 March 2010 |
 PSBI harus menerima kenyataan, ternyata belum mampu menjinakkan Elang Jawa dari Sleman Jawa Tengah. Pertandingan yang digelar di Stadion Soeprijadi Kota Blitar kemarin jum'at sore 5 maret 2005 berakhir dengan kedudukan 1:1. Tentu bila dilihat dari posisi PSBI sebagai tuan rumah hasil imbang itu menjadi hal yang merugikan terlebih hadiah penalti dari wasit yang gagal dieksekusi Ucok menambah pilu ribuan supporter Laskar Singolodro. Namun bila melihat kenyataan dilapangan, memang PSBI harus mengakui kesolidan Elang Jawa.
Babak pertama, PSBI yang banyak kehilangan pemain inti karena cedera dan akumulasi kartu kuning, nampak kehilangan pola. Dan beberapa kali justru gawang PSBI terancam kemasukan bola dari trengginasnya striker-striker Elang Jawa. Babak pertama itu berkesudahan tanpa gol.
Memasuki babak kedua PSBI mampu menorehkan gol atas PSS Sleman, namun beberapa menit kemudian kelengahan pemain belakang PSBI harus dibayar mahal dengan masuknya sebuah gol dijala Musafak keeper PSBI. Kedudukan 1:1 bertahan sampai injure time. Permaianan makin keras pada injure time, sampai akhirnya Ucok striker mungil PSBI jatuh dikotak pinalti karena body contact dengan pemain belakang PSS Sleman, ternyata menurut wasit kejadian itu merupakan pelanggaran keras yang mengharuskan wasit memberikan hadiah pinalti. Kontan pemain-pemain Elang Jawa protes berikut para officialnya, selain injuri time yang diberikan cukup lama yakni 5 menit ditambah hadiah pinalti membuat seluruh rombongan dari Jawa tengah itu baik pemain dan supporternya berang. Namun mereka dapat menerima dengan legawa.
Ucok menangis begitu usai mengeksekusi pinalti yang ternyata mampu digagalkan keeper Elang Jawa. Menyesal,membuang peluang emas, malu dan terlihat menanggung beban begitu berat. Demikian banyak supporter PSBI nampak kecewa, namun itulah sepak bola.
Sungguh sangat disayangkan, tatkala pertandingan usai, beberapa oknum supporter Laskar Singolodro mendekati tribun tempat para supporter Elang Jawa dari luar tembok stadion. Sesaat kemudian batu dan benda-benda keras lainnya dihujankan ke arah supporter PSS Sleman. Tentu saja kericuhan tidak terelakkan lagi. Bila Hal ini menjadi adat dan kebiasaan Supporter Singolodro tidak menutup kemungkinan akan menjadi ancaman serius baik bagi perkembangan PSBI itu sendiri maupun bagi warga Blitar disekitar Stadion Soeprijadi. Grow Up Singolodro!
|
|