|
Harapan meraih poin dikandang lawan harus sirna dan yang lebih menyakitkan lagi hal itu terjadi dipenghujung pertandingan. Skor pertandingan yang semula sama-sama imbang yakni 1-1 seketika berubah 2-1 untuk kesebelasan Slemanan. Sementara laskar Singolodro mau tidak mau harus menelan pil pahit di stadion Maguwoharjo kemarin.
Sebenarnya laskar Singolodro yang dibidane Kang Putut Wijanarko mampu meladeni permainan PSS Slemanan apalah daya ketika wasit Dedi W dari Bali meniup peluit sebagai tanda pelanggaran oleh salah seorang dari laskar singolodro terhadap pemain PSS Slemanan, sehingga vonis pinalti harus dilaksanakan. Dan M. Eksan algojo dari PSS Slemanan benar-benar meluruhkan dan memporak-porandakan harapan PSBI dalam membawa pulang point untuk menghindari peringkat terbawah dari klasemen Devisi Utama. Itulah sepak bola, harus mau dan menerima konsekuensi baik menang maupun tatka la kalah, dan tidak peduli apakah karena faktor cuaca, stamina pemain, skill pemain bahkan faktor wasit pertandingan. Disitulah asyiknya sepakbola. Semoga keluarga besar PSBI beserta supporternya berkenan mengelus dada tanda sabar dan terus berupaya untuk meraih prestasi terbaik di musim kompetisi devisi utama tahun ini. Peran supporter untuk terus memberi semangat adalah mutlak diperlukan, diiringi do'a seluruh wong Blitar, kemudian pembenahan teknis serta peningkatan stamina pemain PSBI itu sendiri tidak kalah penting. Namun dengan tetap menjunjung tinggi filosofi permainan sepak bola, maka tidak perlu dikawatirkan lagi bahwa sepakbola di indonesia akan semakin maju baik kualitas maupun nilai-nilai sepakbola itu sendiri sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia. Menang atau kalah, engkau tetap PSBI-ku...! Bravo Singolodro! foto: wahyudianto
|