|
Nasionalisme bangsa ini ada yang mengatakan kian luntur oleh abrasi golongan-golongan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Tidak jarang konflik horizontal meski dalam bentuk wacana bahkan beberapa kali terbukti adanya bentrok secara fisik antar golongan sehingga memakan korban jiwa membuat ibu pertiwi menangis prihatin. Untuk menguak sekaligus sebagai pengingat atau lebih tepatnya mengajak untuk sama-sama meningkatkan rasa nasionalisme, Wawan Wedhoest salah satu Fotografer yang berdomisili di Blitar memilih bebek sebagai obyek fotonya. Bagaimana prosesi kerjanya kok bebek menjadi demikian cantik dengan kalung pitanya yang merah putih itu?
Sehubungan dengan keinginan Mas Wawan untuk mengisi kegiatan di bulan agustus dengan pameran foto bertema Merah Putih, dia pun minta ijin Mas Mustofa selaku peternak Bebek di daerah Kembangan Ngadirejo Blitar. Begitu tahu maksud dan tujuan Mas Wawan, seketika Mas Topah, begitu panggilannya, mengiyakan saja.
Bebek sebanyak kurang lebih 750 ekor, kemudian diberi pita merah putih. Selanjutnya diarak atau diangon ke sungai dan sawah. Di setiap perjalanan, bebek-bebek itu 'wak-wek-wak-wek' seolah berteriak 'merdeka'. Kalung pita merah putihnya nampak anggun melingkar dileher-leher mereka.
Mas Topah sendiri sudah sejak tahun 2000 berternak Bebek. Dia untuk angon hewan ternaknya yang kadang mencapai ribuan, harus berpindah-pindah tempat, bahkan sampai luar kota, Nganjuk, Madiun dan persawahan kota lainnya. Bila sudah waktunya bertelor, bebek-bebek terus dijual. Harga per-ekor bebek bisa mencapai Rp. 45.000,- sampai Rp 50.000,-. "Lumayan mas, bisa untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga", tuturnya kalem bapak satu anak itu.
|