 Waktu terus berjalan, begitu pun perayaan hari ulang kemerdekaan RI yang pada saat ini mencapai ke 64 tahun. Sebagaimana rencana blitarian untuk kembali menengok sejarah khususnya masa-masa menjelang kemerdekaan Indonesia di Blitar. Meletusnya pemberontakan PETA (pembela tanah air) di Blitar secara nyata mampu mendongkrak semangat bangsa Indonesia untuk bangkit melawan penjajah. Meski harus dibayar dengan darah dan nyawa, pejuang PETA dengan ikhlas berjuang demi anak cucu yang tidak lain adalah generasi Indonesia sekarang dan seterusnya.
Dari beberapa pelaku sejarah pemberontakan PETA Blitar, crew blitarian telah mencoba untuk menjalin tali silaturahmi dengan mbah-mbah PETA di Blitar. Sebagaimana pada tahun 2007 kami sempat mengunjungi 30 pejuang, pada tahun ini yakni 2009 ini sudah banyak yang meninggalkan kita.
Yang masih sangat melekat diingatan kami, yaitu pada tahun 2007 ketika kami berkunjung ke rumah Mbah Nyoto, Sukorejo, Blitar. Beliau dalam kondisi sakit, dan ditemani sang istri tercinta, hanya berdua! Anak dan cucu sudah menempati rumah masing-masing. Katika kemarin, awal bulan agustus kami berkunjung kembali ke rumah mbah Nyoto, ternyata keduanya telah berpulang setahun yang lalu. Duh...!
Berikutnya kami meluncur ke rumah Mbah Soepardi, di Desa Sumberagung kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Pada tahun 2007, ketika kami berkunjung, beliau juga sedang sakit. Dan ketika kemarin kami berkunjung kesana lagi, ternyata beliau sudah tiada pada 16 Desember 2008. Kami sempat bercengkerama dengan istri Mbah Soepardi yaitu mbah Sri Suryanti. Mbah Soepardi tutup usia di 84 tahun, beliau lah yang terakhir kali bersama Sodancho Soepriadi. Menurut cerita Mbah Sri Suryani, suaminya dahulu berpisah dengan Soeprijadi di Gunung Gedang, dengan kata terakhir CENGKIR ( kenceng mikir ) artinya mereka tetap pada pendirian atau pemikiran yang lurus pada perjuangan merebut kemerdekaan, kemudian Sodancho Soeprijadi berjalan ke arah barat ( Gunung Kelud ) sementara Mbah Soepardi ke arah timur ( gandusari) semua itu terjadi setelah meletusnya pemberontakan PETA Blitar. Pada akhirnya, Sodancho Soepriyadi dikabarkan menghilang, MUKSO.
Setelah Mbah Soepardi meninggal, pemerintah berniat memakamkan mbah Soepardi di Taman makam pahlawan, namun ditolak oleh pihak keluarga khususnya putri bungsu, dengan alasan biar mudah apabila keluarga nyekar ke makam, maka mbah Soepardi dimakamkan di makam umum desa Sumberagung.
Semoga amal ibadah mbah-mbah PETA yang telah mendahului kita diterima disisi-Nya. Amin.
|