|
Sebelah barat Tugu Rante, Bendo Kabupaten Blitar, kira-kira 450 meter, ada sebuah rumah dengan dinding anyaman bambu di utara jalan. Rumah atau mungkin bisa dibilang gubuk bambu dengan ukuran 6 meter kali 3 meter itu merupakan tempat tinggal orang yang pertama kali memuntahkan peluru ketika pemberontakan PETA Blitar yang meletus pada 14 Pebruari 1945. Meskipun bukan beliau sendiri yang menembakkan, tapi karena senjata otomatis WATERMANTLE harus dioperasikan 4 orang dan beliau termasuk dari 4 orang tersebut. Siapakah beliau?
Namanya Mbah Tukirin, lahir pada tahun 1921 kemudian bergabung dengan PETA Blitar. Mbah tukirin mempunyai seorang istri bernama Marsini yang lahir pada tahun 1927. Mbah Marsini merupakan ketua organisasi perempuan Bendo yang disebut FUCHINKAI.
Menurut mbah Tukirin, saat meletusnya pemberontakan PETA di Blitar, beliau bersama 4 rekannya bertanggung jawab terhadap senjata otomatis Watermantle. Dan yang bagian menembak bernama Tumijan, sementara 2 teman lainnya mbah Tukirin sudah lupa namanya. Sementara Mbah Tumijan sendiri sekarang sudah tiada.
Ada cerita yang mendebarkan saat terjadi perang, menurut mbah Tukirin, Sodancho Soepriyadi pernah berpesan bahwa bila nanti ada seseorang atau apapun yang memakai kain putih keluar dari asrama, agar segera ditembak. Maka yang pertama kali melihat seseorang memakai kain putih keluar dari salah satu ruang asrama adalah Mbah Tumijan, saat itu juga mbah Tumijan mengarahkan senjatanya dan menembakannya. Sesaat kemudian, baru diketahui bahwa orang yang memakai kain putih tersebut adalah Sodancho Soepriyadi sendiri. Hal itu disadari setelah Soepriyadi sendiri bertanya siapa yang telah menembak dirinya. Dengan tegas mbah Tumijan menjawab bahwa yang menembak tadi adalah dirinya. Namun Soepriyadi justru berkata "Bagus!".
Semua itu masih melekat diingatan mbah Tukirin, bahkan mbah Tukirin bersama pleton-nya ikut Sodancho Soepriyadi menuju daerah Bangsri paska pemberontakan tersebut. Sementara tentara PETA lainnya mencari tempat persembunyian masing-masing. Terakhir kali mbah Tukirin melihat Sodancho Soepriyadi yaitu saat Soepriyadi pamit menuju arah Gunung Kelud yang kemudian banyak cerita bahwa Soepriyadi menghilang di Gunung Gedang yakni anak Gunung Kelud. Setelah Soepriyadi berpamitan, pucuk pimpinan diserahkan kepada Sodancho Soenarjo. Mbah Tukirin sendiri akhirnya tertangkap oleh Jepang dan dibawa ke Jakarta. Selama 3 bulan mbah Tukirin di penjara, selama itu pula beliau mendapat siksaan secara fisik. Setelah Indonesia Merdeka, Mbah Tukirin kembali menjadi seorang tentara sampai masa pensiun sekitar tahun 1964.  Sekarang Mbah Tukirin bersama istri tercinta yaitu Mbah Marsini hidup dalam gubuk bambu yang sempit. Ruang tamu sekaligus sebagai tempat tidur. Mereka dikaruniai 2 putra dan 3 putri dan sudah tidak tinggal di Blitar, ada yang di Bali, di Jember dan kota lainnya. Tapi syukurlah, ada salah satu putrinya yang tinggal dekat dengan gubuk beliau. Setidaknya masih ada yang merawat bila bangsa Indonesia ini tidak mampu merawat pahlawannya. Dalam kesederhanaan itu Mbah Tukirin sebagaimana mbah-mbah PETA lainnya, sedikit pun tidak menuntut penghargaan atau imbalan. Menurutnya tiada kebahagiaan selain melihat anak cucu serta saudara-saudara lainnya hidup tanpa penderitaan dijajah bangsa lainnya seperti yang telah beliau alami.
|