Tidak dipungkiri pelaksanaan pembangunan monument Bung Karno di Perempatan Jl. A. Yani tersebut tentu saja setelah mendapat ijin dari Pemkot Blitar. Yang awalnya, ditengah-tengah perempatan itu hanya terdapat sebuah taman mungil yang tidak terurus.

Siapa sih yang punya ide pembangunan monument itu? Namanya Mas Sony Yuliono, warga Gebang Kidul kecamatan Sananwetan. Berawal dari uang yang tidak lebih dari 300 ribu rupiah, itu pun hasil dari uang SAWUR ( uang amal dari masyarakat ketika ta’ziah karena ada salah satu warga Gebang Kidul yang meninggal ). Dengan ‘modal’ dari uang sawur itu, Mas Sony mengajak beberapa rekannya, Mas Medi, Anis, Eko dan lainnya untuk memanfaatkan uang tersebut guna membuat patung Bung Karno yang nantinya diletakkan di tengah-tengah taman perempatan Jl. A. Yani Blitar.

Langkah pertama, sekitar tahun 2002, Mas Sony dkk menghadap Pak Djarot sebagai Wali Kota guna meminta ijin atas rencana pembangunan monument itu. Settelah ijin didapat, Mas Sony dkk bersama warga Gebang Kidul mengupayakan bahan baku serta bantuan inmaterial lainnya. Mulai pembuatan spanduk “Disini akan dibangun Monumen Bung Karno” yang dipasang diperempatan itu, kemudian mengumpulkan dana sukarela ke seluruh warga Gebang, sementara bahan baku berupa pasir dan batunya mencari sendiri ke daerah Ngoran Kabupaten Blitar. Untuk konsumsi selama pembangunan monument, warga gebang yang memiliki usaha warung makanan, secara gotong royong dan bergiliran, menyisihkan makanan dan minuman untuk Mas Sony dkk.
Ada cerita yang sampai saat ini masih segar diingatan Mas Sony dkk, yaitu ketika ada seorang pengguna jalan yang melintas di perempatan tersebut, berhenti dan bertanya, ‘akan dibangun apa, Mas’? setelah tahu apa yang dilakukan Mas Sony dkk, orang yang tidak mau disebutkan namanya tersebut merogoh koceknya (saku) secara spontan menyumbang uang 1 juta rupiah. Setelah ditanya ternyata bapak yang dermawan itu adalah warga Samben Kabupaten Blitar.
Sementara untuk tanaman hias yang mengelilingi monument Bung Karno merupakan sumbang sih dari paguyuban penjual dan pecinta tanaman hias warga Jl. Mawar Blitar yang dikoordinir oleh Bapak Tomo.
Memang untuk pengadaan lampu dan cat, Mas Sony dkk mendapat bantuan dari DLH ( Dinas Lingkungan Hidup ) Kota Blitar. Itu pun masih harus ditunjang dengan hasil team pencari dana ke warga setempat. Menurut Mas Sony dkk, total biaya utuk bahan baku pembangunan Monumen Bung Karno tersebut, kurang lebih 21 juta.
Sampai saat ini, setelah Monumen diresmikan oleh Ibu Rahmawati Soekarno Putri, salah satu putri Bung Karno, sudah 3 kali diadakan pemeliharaan meliputi pengecatan dan renovasi dibeberapa bagian patung. Biaya renovasi yang pengerjaannya dilakukan kembali oleh Mas Sony dkk, sejumlah 3 juta rupiah, uang didapat dari salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Blitar.
Sementara ketika Ibu Rahmawati meresmikan monument tersebut, beliau menyumbangkan uang 10 juta untuk selamatan seluruh warga Gebang. Dari dana itu warga menyelenggarakan kenduri serta menyelenggarakan beberapa pentas kesenian lokal Blitar.
Masih ingatkah ketika pemerintah membangun tugu di dalam taman Kebon Rojo beberapa tahun yang lalu, dengan dana Milyaran rupiah? Sebenarnya tidak terlalu mahal dan tidak terlalu sulit, bila ingin memajukan Blitar, asal jujur, apa adanya, dan tanpa pamrih selain untuk kemajuan dan keindahan Blitar tercinta, ajak Mas Sony dengan senyum yang saat ini aktifitas sehari-harinya adalah sebgai tenaga honorer untuk menjaga kebersihan dan keindahan Taman Kebon Rojo Kota Blitar.