|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Thursday, 30 April 2009 |
|
Pagi-pagi sebelum melakukan aktifitas dalam memenuhi kewajiban, entah pergi ke sekolah, ke kantor, ke sawah, atau bahkan ngamen dan seabrek kegiatan lainnya, tiada hal yang nikmat selain sarapan. Bagi wong ndeso alias warga Blitar yang hidup dipedasaan, mungkin sudah terbiasa dengan sarapan makanan YESTERDAY. Sarapan dengan Jangan Blendrang (masakan kemarin) yang telah dipanaskan. Bagi wong kutho yang notabene sarana dan prasarana sarapan lebih terjamin, mungkin sudah tidak pernah ada masalah. Minimal bila malas masak tinggal jalan ke tempat Pak Jan. Loh siapa dia?
 Nama lengkapnya Pak Tukijan. Warga kota blitar yang berdomisili di Jl. A. Yani depan Kantor Dinas Pertanahan, sudah sejak tahun 80an beliau berjualan nasi pecel hasil masakan sang istri di trotoar jalan Depan Kantor Dinas tersebut. Buka mulai sekitar pukul 06.00 dan pukul 08.00 sudah kukut alias habis. Waktu yang pas buat mereka yang doyan berburu nasi pecel buat sarapan. Soal rasa, tidak kalah dengan nasi pecel kelas ekspor. Ditambah peyek dan tempe goreng plus segelas teh hangat, membuat siapapun bakal menggelinjang karena nikmat. Dengan uang 5 ribu rupiah, asal tidak memecahkan gelas atau piring, maka akan dikembalikan 1500 rupiah. Bila tidak puas makan satu piring tapi malu mau menambah nasi pecel di tempat, Pak Jan dengan senang hati membungkuskan nasi pecelnya biar bisa disantap dirumah.
|