|
Gedung Amphitheater Blitar |
|
|
|
|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Friday, 17 April 2009 |
 Gedung ini benar-benar terbuka! Berada persis disebelah barat gedung perpustakaan Bung Karno, bahkan mepet temboknya. Gedung teather yang telah diresmikan Bapak'e Wong Mblitar, Pak Djarot Saiful Hidayat Wali Kota Blitar pada tanggal 19 Pebruari 2009 kemarin yang diberi nama Gedung AMPHITHEATER sama sekali tidak ada atap pelindung terik matahari atau pun air hujan. Mari kita tengok secara blak-blakan karena memang Gedung Amphitheater tersebu tanpa tutup tedeng aling-aling...
Begitu kita memasuki lingkungan perpus Bung Karno, setelah melewati pintu gerbang sebelah barat, disebelah kiri bahu jalan menuju ruang perpus akan terlihat cabang jalan ke kiri menuju ke gedung AmphiTheater. Sebenarnya dari jalur utama menuju perpus, panggung theater tersebut sudah dapat dilihat. Karena posisinya berada beberapa meter ke bawah dari jalan berpapping arah perpus. Sebagaimana gedung perpus Bung Karno yang dibangun berada dalam tanah begitu pula gedung Amphitheater tersebut, sehingga tribun untuk penonton bisa dicapai dari jalan raya sebelah barat perpus Bung Karno.
Sarana pertunjukan theater sudah tersedia, tinggal bagaimana anak-anak muda Blitar memanfaatkannya. Sebagai langkah awal, mungkin pihak perpus yang dalam hal ini bisa jadi merupakan sang empu keberadaan gedung terbuka tersebut membuat semacam acara parade Theater atau pun tari tradisional. Mungkin terlalu muluk, namun tidak ada salahnya untuk diupayakan minimal ada wadah buat menumpahkan energi kawula muda agar tidak salah kaprah ndadekne owah njur nggladrah dadi masalah.
Begitu pula Dinas Pendidikan Kab/Kota Blitar, tidak ada salahnya disela-sela rutinitas sehari-hari, mengutus beberapa orang yang berkompeten dibidang pertunjukkan untuk menggelar kegiatan serupa, tentu saja pesertanya adalah siswa-siswi sekolah sekabupaten atau sekota Blitar. Sehingga pembangunan gedung yang cukup indah itu tidak mlompong sia-sia.
Kecuali memang gedung terbuka tersebut hanya untuk pajangan atau sekedar memanfaatkan tanah kosong di samping perpus, tentu saja tidak kan? Soal prosedur pemanfaatan gedung tersebut kelihatannya memang belum banyak sosialisasi, apakah hanya pihak perpus yang boleh menggunakannya atau memang disediakan untuk warga umum yang kebetulan memang ada minat dan bakat untuk menggali potensi dibidang Theater dan seni tari. Namun, boleh jadi timbul kondisi riskan juga ketika gedung tersebut untuk menggelar sebuah acara sementara di dalam gedung perpus memerlukan suasana tenang bagi para pembaca buku-buku di perpus Bung Karno. Mengingat jarak keduanya hampir sama sekali tidak ada, alias mepet gur keletan tembok.
Namun kami percaya, semua itu sudah ada antisipasinya! bravo cah Blitar, majulah Wong Blitar, jayalah Blitarian!
|
|