Khususnya di Kabupaten Blitar, masyarakatnya menggantungkan hidupnya dibidang pertanian, namun tidak dipungkiri lambat laun tanah pertanian di Kabupaten Blitar perlahan namun pasti hari demi hari terus menyusut baik kuantitas maupun kualitasnya persawahannya. dan hal itu secara langsung membawa dampak terhadap kehidupan para petani Blitar terlebih pada kesejahteraannya.
Nasib Petani...
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itu yang tepat dijadikan istilah nasib petani saat ini di Blitar menyangkut persediaan dan harga pupuk. Sudah sering terjadi saat musim tanam tiba, pupuk-pupuk yang sangat dibutuhkan petani tiba-tiba jarang tersedia dikios-kios penjualan pupuk, kalau pun ada, harganya menjadi selangit. Tiada yang bisa dilakukan selain mencari pupuk seadanya yang kemungkinan besar akan merusak struktur dan tekstur tanah tempat mereka bercocok tanam. Dan hal itu diperparah ketika saat panen harga hasil-hasil pertanian tiba-tiba anjlok sedemikian rupa. Petanipun meringis, sekarat, melenguh lirih manahan lelah jiwa dan raga.
Semua juga tahu aktifitas petani, dari pagi sampai sore bergelut dengan lumpur-lumpur di sawah, tidak jarang malam harinya masih harus berburu air guna mengairi sawahnya yang kian rusak tekstur dan struktur tanahnya. Belum lagi menahan gempuran hama tanaman yang beraneka ragam. Maka keberadaan pupuk yang selain mampu melawan hama juga pupuk yang ramah lingkungan sangatlah penting sebelum semua tinggal penyesalan.
Ternyata.....

Untuk menjawab itu, di Kabupaten Blitar ada IPPHTI ( Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia ) mengadakan pelatihan pembuatan pupuk Bokhasi Plus, yaitu pupuk kandang yang telah di fregmentasi plus agens hayati trichodirma SP yang merupakan cendawan musuh alami pada penyakit layu fusarium pada tanaman. Tepatnya pelatihan tersebut diselenggarakan hari minggu tanggal 12 april 2009 kemarin bertempat di PPAH ( Pusat Pelayanan Agens hayati ) Kelompok Tani Sri Utomo dukuh Sumber rejo Desa karang rejo Kec. garum dengan dipandu oleh Koordinator PHP ( Pengamat Hama dan penyakit ) Dinas Pertanian Kab Blitar bapak M. Shokib SP. MMa.
Dikesempatan itu para petani yang hadir terdiri dari perwakilan-perwakilan masing-masing kecamatan di kabupaten Blitar. Mereka diajar cara membuat Botrich (Bokashi Plus Trichodirma SP ) dan pembuatan Agens Hayati Verticillium Leecanie SP.
Diharapkan setelah mengikuti pelatihan mereka mampu mengembangkan dan secara gepok tular menyampaikan kepada anggota tani yang lainnya. Dengan begitu apa yang mereka dapat dari pelatihan tidak mentok sekedar iso-isoan terus kosong dalam aplikasi, namun benar-benar dipraktekkan dalam aktivitas di pertanian masing-masing.
Dengan adanya kegiatan-kegiatan semacam tadi, IPPHTI Kab Blitar berharap akan terjadi suatu Sistem Pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, budidaya tanaman sehat sehingga menghasilkan produk pertanian yang organik bebas residu kimia. Sampai pada semua hasil pertanian Blitar mampu bersaing di pasar global yang pada titik akhirnya adalah kesejahteraan petani Blitar terangkat.
IPPHTI Kab Blitar sangat yakin dengan potensi Blitar yang berupa lahan sawah seluas 31.700 Ha, ditunjang sumber daya alam berupa kotoran ternak ayam dari jumlah ayam ras yang ada di kabupaten Blitar sebanyak 14 juta ekor dengan hasil kotoran keringnya sekitar 250.000 ton pertahun.
Karena kebutuhan pupuk Botrich hanya 2 ton per-Ha maka kebutuhan pembuatan Botrich di Blitar hanya membutuhkan sekitar 195.000 ton kotoran ayam. Jelas sudah bahwa realita dilapangan perihal sumber daya alam di Blitar benar-benar mampu menjawab masalah rusaknya struktur atau tekstur tanah pertanian di Blitar apa bila seluruh komponen yang terkait mau untuk bahu membahu mendorong kemajuan pertanian di Blitar. Dengan begitu target GO ORGANIC 2010 akan dapat tercapai. Kemaslahatan dalam kemakmuran pangan tidak hanya akan diraih para petani Blitar namun seluruh warga Blitar akan terangkat tidak hanya swasembada pangan secara otonomi namun juga konsumsi produk pertanian yang sehat mendorong hidup sehat sehingga mampu beraktivitas secara optimal dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Majulah Petaniku, Makmurlah Blitarku, Jayalah Indonesiaku!