
Sejak tahun 1990, sungai Brantas khususnya daerah bendungan Jegu ke barat arah Tulungagung, setiap tahunnya hampir bisa dipastikan terjadi even yang menarik. Banyak warga turun ke sungai untuk menangkap ikan. Ikan-ikan sungai brantas tersebut didapat bukan dari memancing atau menjaring pakai jala ikan namun cukup ditangkap pakai tangan kosong yang disebut 'gogo' atau pun pakai cikrak, irik, besek, dan perangkat sederhana lainnya. Kok bisa ?
Setiap setahun sekali, sejak tahun 1990, bendungan jegu dan Serut secara bergantian, membersihkan lumpur di area bendungan yang kemudian lumpur tersebut dialirkan ke bawah. Akibatnya, banyak ikan-ikan di sungai brantas yang terlewati lumpur tersebut minggir ke tepi sungai kemudian menggelepar-gelepar, sehingga warga disekitar aliran sungai tinggal menangkap ikan-ikan itu dengan alat seadanya. Karena tidak mungkin dipancing pakai kail atau dijaring pakai jala mengingat air sungai kimplek-kimplek penuh lumpur serta enceng gondok dan sampah-sampah hanyut disungai.
Peristiwa ini tidak pernah terjadwal secara formal layaknya agenda pemerintah, namun lebih berdasar pada kondisi lumpur di bendungan-bendungan tersebut. Warga sekitar sungai menyebut peristiwa penangkapan ikan itu dengan
"PLADU" yang maksudnya, air sungai penuh pladu (lumpur) sehingga banyak ikan sungai yang akan mati.
Dari tahun ke tahun, kuantitas ikan sungai makin berkurang demikian pula kualitas ikan yang makin surut karena tiap tahun terjadi PLADU. Seperti yang terjadi kemarin, tinggal beberapa jenis ikan saja yang nampak tertangkap tangan para peserta pesta PLADU, misalnya ikan bader, tawes, wader, bekel, cenggaringan, nila dan cakarmut. Berbeda dengan ketika pesta PLADU tahun 90'an, masih terdapat udang, ikan berot yang mnyerupai ular, jendil, palung, bahkan bulus atau kura-kura. Demikian pula kualitas ikan bader dan bekel, dulu ikan bader ada yang sebesar bantal, dan ikan bekel ada yang sebesar paha kaki orang dewasa, sekarang ikan bader tidak lebih dari sebesar telapak tangan orang dewasa dan untuk ikan bekel tidak lebih dari besarnya lengan anak-anak.

Mulai tahun 2000an, peserta pesta PLADU tidak hanya warga yang berdomisili disekitar aliran sungai, namun warga kota Blitar juga banyak yang mulai nimbrung, sehingga ketika pesta pladu dimulai, sungai brantas seperti suasana kota penuh lampu kerlap-kerlip. Sesekali ada teriakan atau jeritan dari peserta pesta karena terkena pathil dari jenis ikan tempel watu, bentuknya seperti ikan lele, biasanya selalu menempel pada batu-batu kali. Sengatan bisa-nya lumayan menyakitkan, bila tidak terbiasa akan membuat tubuh jadi
nggregesi (adem panas).
Seorang peserta pesta, dulu bisa dapat ikan sebanyak setengah karung beras, tapi sekarang memperoleh 1 kg saja sudah untung, kecuali menggunakan alat yang namanya ayap dan peracik yang terbuat dari senar nilon serta strum listrik pakai accu yang digendong.
Karena tidak terjadwal, maka informasi akan adanya pesta pladu biasanya dari mulut ke mulut. Tentu saja informasi awalnya dari orang-orang terdekat bendungan. Bila dahulu pesta pladu terjadi siang hari sekarang lebih sering malam hari, maka tidak heran bila peserta pesta sampai tidur di pinggir sungai guna menunggu saatnya menangkap ikan, kalau sudah begitu suasana sungai nampak riuh seperti pasar. Pingin ikut pesta pladu? Tunggu tahun depan!