|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Tuesday, 24 February 2009 |
|
Bila anda berkunjung untuk berziarah ke Makam Bung Karno di Blitar, jangan lupa membeli souvenir yang tersedia di sepanjang jalan menuju makam tersebut. Dari bermacam-macam souvenir yang ada salah satunya terdapat kendang yang asli produk pengrajin Blitar. Pusat kerajinan kendang Blitar sebetulnya tidak jauh dari Makam Bung Karno, hanya beberapa ratus meter arah utara dari makam, anda akan menjumpai banyak home industri kerajinan kayu.
Mengingat banyaknya pengrajin kayu, namun masing-masing kelompok (home industri) berbeda-beda yang dihasilkannya. Mulai dari kelompok yang khusus hanya menyediakan bahan baku kayu, kelompok tukang bubut kayu, kelompok pengukir kayu, sampai kelompok pemberi kulit pada kendang serta kelompok yang hanya melayani pemlituran kayu. Belum lagi kelompok yang memproduksi asbak, pot bunga, dan sebagainya. Dan ada juga yang bagian mengolah limbah dari kayu berupa tatal dan serbuk kayu yang digergaji, yang mana limbah itu dikemas sedemikian rupa yang selanjutnya dijual ke pabrik-pabrik sebagai bahan bakar.
Menurut Mas Irawan yang beralamat di Kelurahan Tanggung, salah satu anggota kelompok penyedia bahan baku kayu, dia pernah dalam waktu 2 minggu harus mengirim kendang ke Bali sebanyak 6000 buah. Dilihat dari cara pengerjaannya yang semua menggunakan alat atau mesin manual ternyata target 6000 kendang itu dapat terpenuhi. Tentu saja Mas Irawan tidak sendiri mengerjakan meskipun ditempatnya terdapat beberapa keryawan, dengan cara bagi-bagi kerjaan ke beberapa kelompok yang lain sehingga produk kendang dapat diselesaikan sesuai target.
Diakui Mas Irawan, bahwa pasar kendang Blitar bermuara di Bali dan Yogyakarta. Bisa diartikan pengrajin Blitar hanya sampai pada tahap pemasok barang-barang ke pasar tersebut. Belum sampai mengekspor atau mengirim langsung ke luar negeri. Dan harus legowo ketika produk kerajinannya ber label Made in Bali.
Berbeda lagi yang dikerjakan pengrajin kayu di Blitar selatan. Mereka specialis pengolah akar atau tunggak pohon jati menjadi meubeler dengan ukiran yang sangat indah ditunjang lagi dengan bentuk akar itu sendiri yang alami membuat karya mereka semakin bercitra seni tinggi. Lagi-lagi pasarnya ada di Bali. |