SOEGENG RAWOEH WONTEN ING BLITAR KUTHO TJILIK KANG KAWENTAR

Properti Blitarian

Barang dan Jasa
bpc.jpg

Tamune

Ada 14 tamu online

Anggotane

Belum ada yang Online

Total


Syndicate

Depan
Supriyadi Mampir ke Blitar PDF Print E-mail
Ditulis oleh coim   
Saturday, 01 November 2008
Image
 
Eyang Andaryoko 'Supriyadi' Wisnuprabu, akhirnya datang juga memenuhi undangan warga Blitar pada hari Sabtu tanggal 1 november 2008. Acara di kemas dalam Bedah Buku MENCARI SUPRIYADI karya Romo Baskoro Tulus Wardaya tersebut digelar di salah satu ruangan dalam Gedung Perpustakaan Bung Karno Jl. Kalasan Blitar. Acara bedah buku itu terselenggara berkat prakarsa anak-anak Blitar yang tergabung dalam SITAS DESA [Solidaritas Masyarakat Desa], hadir pula dalam ruangan Bapak Mardiono Gudel serta Ibu Endah wakil dari BHS, Blitar Haritage Society.
 

Acara di awali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh seluruh undangan yang hadir, dilanjut dengan sepatah dua patah kata dari Mas Farhan selaku ketua SITAS Desa. Kemudian Romo Baskoro, Eyang Andaryoko, Bapak Mardiono Gudel serta Ibu Endah menempati kursi yang telah disediakan panitia maka acara bedah buku tersebut segera dimulai.

Pertama, Bapak Mardiono GUDEL (Gunaning Urip Darma Estining Laku) sekaligus mewakili BHS Blitar menyampaikan pandangan-pandangan beliau perihal munculnya SUPRIYADI dari Jawa Tengah yang kemudian diakhiri dengan beberapa pertanyaan sebagai upaya untuk mencari jawaban langsung dari yang  bersangkutan.

Kedua, Eyang Andaryoko menghaturkan kronologi pecahnya Pemberontakan PETA Blitar sampai detik-detik Proklamasi Kemerdekaan. Menariknya, Eyang Andaryoko yang seperti tertulis dalam Buku MENCARI SUPRIYADI: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno bahwa beliau semasa itu adalah sebagai pembantu utama Bung Karno mengusulkan secara langsung (lesan) bahwa prosesi proklamasi dilakukan di Jl. Pegangsaan timur 56 saja, karena lapangan yang semula direncanakan untuk membacakan proklamasi telah dijaga ketat oleh penjajah. Lainnya, beliau lebih banyak mengutarakan perihal tujuannya untuk meluruskan sejarah seperti apa yang telah diamanatkan Bung Karno semasa hidupnya. Beliau tidak mengharap pengakuan utuh bahwa beliau adalah pahlawan sehingga beliau mendapat tunjangan hidup dan sebagainya  namun beliau hanya ingin meluruskan sejarah sebelum 'hari'nya tiba.

Ketiga, giliran Romo Baskoro menyampaikan latar belakang di tulisnya Buku yang menggemparkan Indonesia tersebut. Lagi-lagi beliau menegaskan bahwa Supriyadi yang beliau tulis adalah Supriyadi dari Salatiga bukan Supriyadi yang seperti dihati warga Blitar yang lahir di Trenggalek dan memimpin pemberontakan PETA di Blitar. Dibalik semua itu beliau mengharap bahwa sejarah kepahlawan Supriyadi di Blitar menjadi monumen yang terus hidup, tidak mati tinggal cerita saja, namun terus berdengung di seluruh lapisan masyarakat agar semangat perjuangan itu terus berkobar tiada hentinya.

Keempat, acara dilanjutnya dengan tanya jawab antara hadirin dengan para nara sumber. Bapak Suroto selaku wakil dari keluarga Darmadi, atau keluarga Supriyadi memberikan beberapa pertanyaan seputar masa-masa pendidikan Supriyadi yang ternyata jawaban dari Eyang Andaryoko bertolak belakang. Sementara pertanyaan dari wakil pelaku sejarah yang dahulu sebagai pasukan Supriyadi banyak yang tidak dijawab karena lagi-lagi alasan Eyang Andaryoko hadir di Blitar bukan untuk dihakimi atau lebih tepatnya beliau hanya ingin menuturkan bahwa beliaulah yang memimpin pemberontakan PETA di Blitar itu percaya atau tidak terserah msyarakat Blitar. Sementara wakil dari veteran pasukan Supriyadi tersebut mengatakan bahwa jikalau Eyang Andaryoko adalah pemimpin pemberontakan kok dia tidak mengenal pemimpinnya karena dia turut serta dalam pemberontakan itu yang kemudian disambut gerrrrr.. oleh seluruh hadirin. Satu lagi muncul pertanyaan dari Mbah Peno dari Gandusari tentang apa benar Eyang Andaryoko dulu sempat bersembunyi di Gunung Gedang ( lereng Gunung Kelud ) ? pertanyaan tersebut tidak sempat terjawab karena situasi sudah gaduh dan Eyang Andaryoko mulai mengingatkan bahwa beliau tidak mau mencari ribut, apa lagi minta pangakuan kepahlawanannya dari masyarakat, beliau akan diam dan meninggalkan ruangan bila kehadirannya hanya akan menimbulkan keributan.

Kemudian sesi tanya jawab dilanjutkan lagi, kali ini saudara Fahmi Dhofir, putra pengasuh Ponpes Jatinom, maju menyampaikan tanggapannya perihal Buku yang ditulis Romo Baskoro, yang menurutnya, Buku tersebur adalah BANCI. Buku yang mencoba membaca sejarah secara ilmiah namun menurutnya justru melenceng dari ilmiah itu sendiri. Dan hal itu bisa ditindak secara hukum dan sebagainya. Belum lagi ditulis dalam buku tersebut dimana Supriyadi dalam pelariannya di Blitar selatan, makan buah-buahan, padahal menurut Fahmi jelas itu adalah mustahil. Artinya, sebelum Romo Baskoro menulis tentang hal itu seharusnya cross chek dolo dengan kondisi yang real, disinilah terlihat tidak ilmiahnya. Kemudian pemakaian frame penulisan buku yang lebih banyak menggunakan frame jaman sekarang jelas tidak bisa mewakili judul MENCARI SUPRIYADI namun yang pas menurut Fahmi buku tersebut berjudul ROMO BASKORO MENCARI SUPRIYADI. Hadirin kembali di buat gerrrrr... namun di sisi lain menyisakan gegeraman karena pertanyaan siapa sebenarnya Eyang Andaryoko belum ada titik terangnya, selain hanya seseorang yang mengaku memimpin pemberontakan PETA Blitar dari Jawa Tengah.

Yang terakhir giliran Ibu Endah sebagai wakil BHS Blitar angkat bicara, dengan lantang, tegas dan sangat sopan beliau menuturkan bahwa masyarakat Blitar tidak rela bila kebesaran perjuangan SUpriyadi disalah gunakan oleh oknum atau siapapun itu sehingga sangat diperlukan pengertiannya bila masyarakat Blitar memerlukan bukti yang nyata atas kebenaran Eyang Andaryoko sebagai Supriyadi yang agung itu.

Akhir acara, masih menyisakan beribu pertanyaan tanpa ada jawaban bila yang diinginkan adalah mencari jawab atas benar atau tidaknya Eyang Andaryoko itu adalah Supriyadi. Semoga tabir itu segera terbuka dikemudian hari agar tidak terus berlarut-larut.

 

Komentar
Tambah komentar baru
Anonymous   |125.164.115.xxx |2008-11-04 16:17:38
apapun eyang andaryoko, tp sbg masyarakat kita haus menghormatinya. bila beliau
gokil, maka beliau ndiri yang akan kna dampaknya. jadi diambil hikmahnya
aj..derngan munculnya polemik,,sejarah akan semakin terkuak....
iantoro  - tak perlu diributkan   |125.164.120.xxx |2009-04-07 17:40:27
"Supriyadi" masih hidup sebagaimana "Bung Karno","Bung
Hatta","Tjut Nya Dhien" serta pahlawan Indonesia lainnya. Kalau kita
masih terus mewarisi abu mereka, berarti tidak menghargai jasa pahlawan. Yang
benar adalah kita harus mewarisi api perjuangan mereka. Itulah yang terus hidup
dan tak pernah mati!!
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
 
Mohon untuk memasukkan kode diatas pada kotak yang telah tersedia sebelum anda kirim.

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >

Login

Polling

Apa yang paling anda inginkan ?
 

Pesan Singkat

Latest Message: 6 months, 1 week ago
Please Login to shout..
© 2008 blitarian